
KENDAYAN
adalah nama salah satu kelompok orang Dayak yang berdiam dalam wilayah Propinsi
Kalimantan Barat nama "Kendayan" diberikan oleh orang luar, sedangkan
mereka sendiri menyebut kelompok mereka dengan nama Kanayat. Sumber tertentu
menyatakan, nama Kanayat itu berasal dari nama sebuah bukit di daerah Menyuke.
Dalam Propinsi Kalimantan Barat itu mereka hidup tersebar dalam wilayah berbagai
kecamatan di Kabupaten Pontianak, dan sebagian kecil lainnya berdiam dalam
beberapa kecamatan di Kabupaten Sambas, Kabupaten Ketapang, dan Kabupaten
Sanggau. Di Kabupaten Pontianak mereka berdiam di sebagian besar kecamatan, yakni
dalam 15 kecamatan dari 19 kecamatan yang ada. Kecamatan-kecamatan tempat
kediaman orang Kendayan itu adalah Kecamatan Ngabang, Air, Besar, Menyuke,
Sengah Temila, Mempawah Hulu, Menjalin, Mandor, Toho, Sei Ambawang, Sei Pinyuh,
Kubu, Sei Kunyit, Mempawah Hilir, Siantan, dan Sei Raya. Di Kabupaten Sambas
mereka berdiam dalam wilayah Kecamatan-kecamatan Samalantan, Bengkayang, Paloh,
dan Sei Duri. Di Kabupaten Sanggau mereka bermukim dalam wilayah Kecamatan
Kembayan, Sanggau Ledo dan Kecamatan Toba; sedang di Kabupaten Ketapang berdiam
di daerali kecamatan Simpang Hulu.
Sekedar
gambaran tentang jumlah orang Kendayan dapat diketahui dari sumber tertentu.
Pada tahun 1974 kelompok Dayak Kendayan di Kabuaten Pontianak berjumlah 102.896
jiwa, dan di Pembinaan Masyarakat terasing Departemen Sosial, Laporan Survey
Kelompok Masyarakat Suku Daya Manyuke & Lara di Kecamatan Bengkayang,
Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, 1975). Data lebih rinci dapat diketahui
dari hasil penelitian Tim Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura (1983) di
atas. Berikut ini diterakan jumlah penduduk dari beberapa kecamatan dalam kabupaten
Pontianak pada tahun 1983.
|
Nama
Kecamatan |
Jumlah
Penduduk |
|
Ngabang |
39.687 |
|
Menyuke |
37.009 |
|
Menjalin |
10.850 |
|
Mandor |
16.728 |
|
Sengah Temila |
49.094 |
|
Mempawah Hulu |
29.064 |
|
Air Besar |
22.202 |
Jumlah
penduduk kecamatan seperti dalam tabel di atas sebagian terbesar (mayoritas)
adalah orang Dayak Kendayan. Namun, jumlah orang Dayak Kendayan sendiri tidak
diketahui secara pasti. Sebuah kecamatan lain yaitu Kecamatan Toho, yang tidak
tercantum dalam tabel di atas, sesungguhnya dari penduduk 18.174 jiwa adalah mayoritas
orang Kendayan. Namun, mereka terpecah dalam kelompok-kelompok kecil dengan
namanama kelompok tersendiri, misalnya Dayak Nganayatn, Dayak Ngalampa, Dayak
Ngamukit.
Berbeda
dengan kecamatan-kecamatan dalam tabel di atas, maka di kecamatan-kecamatan
seperti dalam tabel berikut ini tampakjumlah orang Dayak Kendayan relatifkecil
atau bukan merupakan penduduk mayoritas.
|
Nama Kecamatan |
Jumlah Penduduk |
Jumlah Orang Kendayan |
|
Pinyuh |
34.258 |
14.000 |
|
Sei Ambawang |
56.037 |
14.000 |
|
Mampawah Hilir |
? |
650 |
|
Kubu |
22.511 |
524 |
|
Siantan |
41.304 |
45 |
|
Seraya |
59.844 |
1.126 |
|
Sekunyit |
16.810 |
212 |
Sub
Kelompok dan Bahasa. Kelompok orang Kendayan masih terbagi
atas beberapa sub kelompok atau kelompok-kelompok kecil. Sub kelompok kecil itu
sering mengidentifikasi sebagai kelompok tersendiri, meskipun sesungguhnya
mereka berasal dari kelompok Kendayan. Pengakuan sebagai satu kelompok
tersendiri mungkin karena tel ah lama terpisah, tanpa adanya kontak langsung.
Sub kelompok ini tersebar di berbagai kecamatan atau desa-desa. Seringkali sub
kelompok itu mengembangkan variasi bahasa sendiri atau mungkin dapat disebut
sebagai dialek. Di antara bahasa itu ada satu bahasa yang dipakai sebagai
lingua franca dalam komunikasi antar anggota dari kelompok-kelompok yang
berbeda. Bahasa itu adalah bahasa Banana, yang merupakan bahasa orang Kendayan,
meskipun ada orang Kendayan yang berdiam di Kecamatan Sei Pinyuh menamakan
bahasanya dengan bahasa Bajanya.
Sub kelompok dari
orang Kendayan yang berdiam di Kecamatan Menyuke, Kabupaten Pontianak, adalah
Dayak Ngalampa, Dayak Ngabukit, Dayak Benyadu, Dayak Behe, dan Dayak Benane.
Dayak Ngalampa menggunakan bahasa Banana', Dayak Ngabukit menggunakan Bangahe,
Dayak Benyadu berbahasa Benyadu, Behe berbahasa Belangin, dan Benane' Ngamukit
berbahasa Ahe, Dayak Nganayatn berbahasa Kati' dan Nyadu', sedangkan Dayak
Ngalampa berbahasa Mpape dan bahasa Belangin.
- Pola Perkampungan.
Kelompok-kelompok orang Dayak di
Kalimantan Barat umumnya, termasuk orang Kendayan, hidup di daerah pedalaman.
Daerah itu berbukit-bukit diselingi rawa dan juga danau-danau kecil sertadialiri
sungai-sungai besar dan anak sungai. Daerah itu ditutupi hutan lebat dan di sana
sini ada alang-alang. Di tengah lingkungan semacam itu berdiam kelompok-kelompok
orang Kendayan dalam kampung-kampung yang jumlah penghuninya tidak terlalu
banyak. Satu kampung dengan kampung yang lain letaknya berjauhan, yang
dihubungkan oleh jalan setapak atau melalui jalur sungai yang berarus deras
atau penuh dengan jeram. Di tengah sungai itu banyak terdapat batu-batu besar yang
membahayakan bagi lalu lintas. Kalau datang musim kemarau banyak sungai yang
tidak bisa dilalui perahu motor. Keadaan itu akan menyulitkan mereka dalam
memperoleh bahan kebutuhan yang harus didatangkan dari kota.
Pada masa-masa
yang lalu di tengah pemukiman seperti tersebut di atas, kelompok-kelompok orang
Kendayan hidup dalam rumah-rumah panjang (Jonghouse). Rumah panjang itu mereka
sebut rada'ng. Rumah tradisional yang berbentuk panggung itu benar-benar
panjang, yang kadang-kadang mencapai 200 meter atau lebih. Kemampuan teknologi
yang dimiliki tidak memungkinkan mereka meratakan tanah. Oleh sebab itu mereka
menggunakan tiang-tiang yang tidak sama panjangnya agar lantai rumah itu tetap
rata. Pada masa lalu lantai rumah itu dibuat tinggi demi keamanan, agar
terhindar dari amukan musuh yang mungkin datang menyerang. Namun kini tidak ada
lagi gangguan keamanan semacam itu, sehingga tiang-tiang rumah rada'ang sudah
lebih rendah. Di samping panjang dan tinggi, rumah tradisional itu juga cukup
lebar, ada yang mencapai 27 meter.
Tiang, tangga dan
seluruh kerangka rumah itu dibuat dari kayu terbaik, seperti kayu ulin,
belian, dan kayu besi. Jenis kayu yang sama dibuat pula untuk atap sirap.
Hubungan antara potongan-potongan kayu tidak dipaku, akan tetapi dengan teknik
ikat dengan rotan. Lantai dan kerangka atap terbuat dari potongan kayu dengan
ukuran kecil. Kulit kayu yang tebal digunakan untuk dinding.
Bagian atas rumah itu terdiri dari deretan puluhan kamar atau bilik dan masing-masing kamar i tu meru pakan tempat tinggal keluarga luas. Di depan deretan kamar itu ada beranda yang seolah merupakan jalan dari satu ujung ke ujung yang lain. Di bagian luar dari beranda itu ada pula serambi terbuka yang disebut pante, yang biasanya digunakan untuk tempat menjemur padi. Sebuah rumah panjang, seperti yang dilukiskan di atas, dapat disebut sebagai sebuah kampung, yang penghuninya bisa mencapai 500 orang atau lebih.
- Mata Pencaharian
Orang Kendayan umumnya hidup dengan
bercocok tanam di ladang, yang umumnya merupakan perladangan berpindah, dengan
satu kali panen dalam setahun. Nasi merupakan makanan pokok mereka. Untuk
mencari dan memilih lahan untuk ladang, memulai pekerjaan di ladang, mereka
memperhatikan dan mempercayai isyarat-isyarat alam. Isyarat-isyarat alam itu
ialah pohon yang tumbang sendiri, ular yang melintas, bau sesuatu, suara
burung, arah terbangnya burung, gerak belalang, dan lain-lain. Burung yang
bersuara di sebelah kiri merupakan pertanda baik; burung yang terbang dari kiri
ke arah kanan sebagai pertanda buruk, dan lain-lain. Beberapa jenis burung
dianggap dan dipercayai sebagai suruhan dewa. (Lihat Ahmad Yunus dan Sumantri
Sastrosuwondo, Eds., 1985). Pekerjaan di ladang itu membutuhkan banyak tenaga
kerja, oleh sebab itu mereka selalu membentuk kelompok kerja yang disebut alearn. Kelompok kerja itu di samping
dari kalangan kerabat, juga dari para tetangga yang terdiri dari 10 sampai 15
orang. Di sana sini sekarang sudah mulai tampak dengan sistem upah.
Orang Kendayan
mengenal upacara syukuran seusai panen, yang disebut upacara naik dango.
Upacara yang dilangsungkan setahun sekali ini merupakan ungkapan rasa syukur
kepada Tuhan (Jubata) sebagai penguasa alam tertinggi. Upacara ini berintikan
doa (nyangahatn) kepada Tuhan, agar bibit yang akan mereka ambil dari lumbung
diberkati oleh Tuhan. Dengan demikian mereka akan memperoleh hasil yang
berlimpah pada masa tanam berikutnya. Upacara ini disertai pula dengan acara
nyanyian, tarian, dengan iringan musik dengan instrumen-instrumennya bernama dau
dan agung. Upacara ini berakar dari ceritera rakyat setempat tentang asal-usul
tanaman padi.
Hasil panen di
ladang seringkali tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam setahun. Karena
itu mereka mengusahakan tambahan dari menoreh karet ada masa tidak sibuk di
ladang tadi. Penghasilan karet ini sangat tergantung pada fluktuasi
perdagangan. Usaha lain ialah mengumpulkan has ii hutan, seperti rotan,
getah jelutung, damar, kayu, madu, dan lain-lain. Hasil hutan ini pun masih
tergantung kepada kemurahan alam yang menyediakannya, karena terus menerus
diramu, sehingga sudah sulit pula untuk mendapatkannya.
- Teknologi.
Di samping unsur teknologi seperti rumah, makanan, seperti tersebut di atas,
ada beberapa unsur peralatan dan teknologi lainnya. Orang Kendayan mengenal
beberapa unsur pakaian yang biasa dipakai dalam rangka upacara. Bangkung atau
tengkulas adalah tutup kepala yang dianyam dari kain warna-warni, misalnya merah,
putih, hitam, kuning, biru, abu-abu. Warna yang selalu ada ialah merah dan
putih. Tutup kepala yang warna-warni ini dilengkapi pula dengan tujuh helai bulu
burung yang dijepitkan pada anyamannya.
Baju barote adalah
baju tidak berlengan terbuat dari kain berwama merah bersulam, diberi manik-manik
dari logam, mata uang perak. Baju seperti ini dulunya dipakai oleh orang-orang
terkemuka. Tali pinggang (tingkang langke) berupa untaian manik-manik berwama
hitam. Bahan tali untaian manik-manik itu adalah rotan. Kapuak adalah celana
atau cawat dengan warna merah yang dipakai oleh kaum pria. Wanita memakai rok
(areng) yang juga berwama merah. Sekeliling bagian bawah rok itu diberi
rumbai-rumbai dengan warna kuning keemasan.
Sebagai perhiasan,
mereka memakai gelang tangan (galang bilunsu) yang terbuat dari tulang atau
batu. Gelang itu berbentuk belah rotan dengan lebar kira-kira empat cm, yang
dipakai pada salah satu lengan kanan atau kiri. Pada kedua pegelangan tangan
dipakai gelang yang terbuta dari perak. Selain itu mereka memakai kalung
(konkang) berupa untaian manik-manik.
Satu jenis tutup
kepala yang lain disebut Tudung Ngabang yang rupanya banyak dibuat di daerah Ngabang.
Bahan pembuatan tudung ini adalah dari barn bu (lemang), daun pandan (sekik).
Alat perekatnya adalah sejenis damar (mampak). Bingkai tudung ini terbuat dan
rotan yang diikat dengan pakis hutan (naman) atau serat daun nanas. Bahan
pewarnanya adalah ramuan bahan dari alam setempat, misalnya jerenang untuk
menghasilkan wama merah. Tudung ini pada mulanya dipakai sebagai penutup kepala
bagi pasangan pengantin. Perkembangan kemudian dipakai sebagai tudung saji dan
hiasan dinding.
Beberapa macam
wadah ada yang disebut toyo, penangkit atau tangge, topong pamanih. Toyo adalah
wadah untuk membawa padi dengan ukuran yang besar dan tinggi. Wadah ini terbuat
dari rotan, kulit bambu, dan kulit kayu pohon kapuk yang dianyam rapi dan
kuat. Penangkin ialah wadah untuk membawa padi dengan ukuran kecil. Wadah ini
terbuat dari rotan dan kulit bambu dan dibubuhi ragam hias berwarna merah,
putih, hitam dan biru. Wadah ini tampak kekar dan indah. Topong pamanih adalah
wadah untuk benih padi, yang bahannya dari bambu dan kayu talingsing sebagai
bingkainya. Kulit bambu tadi dianyam dengan anyaman yang halus.
- Kekerabatan.
Dalam sistem kekerabatan, mereka mengamalkan prinsip bilateral, artinya mereka
menarik garis keturunan dari pihak laki-laki dan pihak perempuan. Dal am
keluarga, kedudukan ayah di pandang lebih tinggi dari pada ibu. Ayah lebih
banyak menentukan dalam pengambilan keputusan. Kedudukan anak laki-laki dan
anak perempuan di mata orang tua adalah sama. Orang Kendayan mengenal sejumlah
upacara dalam rangka daur hidup (life cycle), misalnya upacara batalah nama
yaitu pemberian nama bayi yang baru lahir; upacara bersunat, upacara perkawinan
(gawai adat kawin), upacara kematian (nyaruk sumangat). Selain itu ada upacara
penyembuhan orang sakit (Baliatn), upacara Babantan yang mengandung harapan
agar padi tumbuh subur dengan hasil yang berlimpah, upacara mendiami rumah
baru. Kini sebagian dari mereka memeluk agama Katolik, Protestan, atau Islam,
dan agama lainnya.
Suatu kebiasaan
yang biasa dilakukan dalam rangka upacara tertentu adalah minum minuman keras
dan permainan judi. Minuman keras itu berupa arak dan tuak. Suguhan minuman
keras ini diberikan kepada para tamu bukan saja bagi orang Dayak, tetapi juga
kepada tamu yang bukan Dayak bila tamunya menghendakinya. Suguhan itu pun
bukanlah merupakan keharusan. Di luar pesta adat minuman keras itu diminum
sebelum dan sesudah bekerja berat. Mereka beranggapan minuman keras itu akan
menimbulkan gairah kerja dan menghilangkan rasa lelah. Permainan judi dalam
pesta adat, seperti yang terdapat pada kecamatan Ngabang, ada yang bemama
dobol, catan, pako. Di Kecamatan Menyuke jenis-jenis permainan judi itu dikenal
dengan nama tongko', leongfu, pakou, tabas, ceme; di kecamatan lain dikenal
pula dengan nama-nama yang lain lagi. Permainan judi ini rupa-rupanya berasal
dari oran-gorang Cina yang ada di Kalimantan Baral umumnya. Permainan judi dalam
pesta adat itu masih berlaku sampai pada masa yang lebih akhir, karena judi itu
rupanya bukan merupakan pelanggaran adat, karena itu tidak dikenakan sanksi.
Komentar
Posting Komentar