BUKAT
adalah salah satu kelompok orang Dayak yang ada di wilayah Propinsi Kalimantan
Barat. Mereka terutama mendiami wilayah Kabupaten Kapuas Hulu, terutama di
wilayah Kecamatan Putisibau. Di sini mereka berada di hulu sungai Mendalam,
anak sungai Kapus. Di antara desa pemukiman mereka bernama Nanga Obat, di mana
kata nanga itu berarti "sungai". Dari Putusibau desa itu bisa dicapai
lewat sungai dengan speed boat sembilan HP selama lebih kurang 6,5 jam. Sumber
Departemen Sosial mencatat keseluruhan orang Bukat di Kecamatan Putusibau pada
tahun 1974 adalah sebanyak 296 jiwa. Mereka ini dikategorikan sebagai
"masyarakat terasing". Sedangkan sumber lain (Mutiara, 1988) mencatat
orang Bukat di desa Nanga Obat berjumlah sekitar 130 jiwa yang terbagi dalam 24
kepala keluarga (kk). Sumber terakhir ini menye-butkan bahwa orang Bukat ini
tidak tepat disebut sebagai kelompok "masyarakat terasing" , karena
sejak lama mereka telah banyak kontak dengan kelompok masyarakat lain di
sekitarnya atau dengan dunia luar.
Orang
Bukat yang berdiam di desa Nanga Obat ini biasa disebut orang Bukat Mendalam.
Sementara kelompok lain bernama Bukat Keriau yang berdiam di sungai Keriau,
yang juga anak sungai Kapuas. Sementara pendapat mengemukakan bahwa orang Bukat
merupakan sub kelompok dari orang Punan. Hal ini dianggap demikian karena orang
Bukat sendiri memang sejak lama bersifat nomadik. Kata punan itu sendiri memang
berarti "berkemah", atau hidup ber-pindah-pindah sesuai dengan irama
mata pencaharian guna menunjang kehidupan mereka. Memang seperti umumnya orang
yang disebut Punan, orang Bukat pun hidup dari meramu, misalnya mengumpulkan
hasil hutan, berburu, dan menangkap ikan. Mereka tidak memiliki rumah panjang,
tidak berternak babi atau ayam, tidak menyadap karet. Bercocok tanam di ladang
pun belum lama mereka kenai, karena sering ada kontak dengan orang Kayan. Dalam
hal-hal tertentu orang Bukat berbeda dengan Punan yang menjadi tetangganya,
misalnya dalam hal bahasa dan kesenian. Sementara pendapat memang menyatakan,
bahwa satu kelompok "Punan" itu adalah "sayap" dari
kelompok Dayak tertentu yang menetap.
Sebaliknya,
orang Bukat dan Punan menunjukkan persamaan yakni sama-sama sebagai pemasok
hasil-hasil hutan bagi kelompok Dayak yang menetap untuk dipe rdagangkan dengan
kelompok "Non-Dayak Pola penghidupan memperdagangkan hasil hutan lewat
perantara semacam ini memang telah diungkap oleh para peneliti, yang sudah
berlangsung sejak berabad-abad yang lalu antara masyarakat pedalaman Kalimantan
ini, yang memang mempunyai keahlian yang luar biasa dalam mengumpulkan
hasil-hasil alam itu. Hasil-hasil tersebut, misalnya bahan obat-obatan
tradisional, perekat pembuatan kapal, sarang burung, telah menjadi incera dari
daratan Asia (Cina, Arab) sejak berabad-abad yang lalu itu.
Kemahiran
orang Bukat yang patut diungkap di sini adalah berburu. Pengetahuan dalam
menggunakan sumpit sebagai alat berburu selalu diajarkan kepada generasi muda
agar menjadi terampil. Sumpit (soput) buatan orang Bukat terkenal mutunya yang
bai k di kalangan tetangganya seperti orang Kayan. Orang Kayan sering minta
dibuatkan sumpit, yang bahannya dari sejenis kayu besi yang berwarna hitam
pekat dan keras. Orang Bukat juga mempunyai teknik dasar berburu, kemampuan
membacajejak, ketajaman penciuman dan pandangan mata dalam mengamati sasaran,
misalnya rusa. Kegiatan berburu ini biasanya dilakukan dalam kelompok
yangjumlahnya sekitar lima orang. Kelompok ini merupakan kelompok tetap.
Perburuan itu juga dibantu oleh lima ekor anjing. Pemimpin dalam berburu
ditentukan berdasarkan pengalaman dan keahlian.
Unsur
luar yang telah mereka serap, misalnya ajaran agama Katolik. Sejak tahun
1970-an semakin banyak mereka memeluk agama ini. Berbagai norma adat (bulin-bulin) semakin tergeser perannya. Sejak tahun 1980 SD lnpres sudah masuk ke
daerah mereka. Generasi mudanya sudah banyak yang tak buta huruf lagi. Gambaran
dunia luar semakin menyusup ke dalam masyarakat ini.
Komentar
Posting Komentar