Langsung ke konten utama

SUKU ALAS - NANGGROE ACEH DARUSSALAM

 

ALAS merupakan penduduk asal di Propinsi Daerah Istimewa Aceh yang bermukim di wilayah Kabupaten Aceh Tenggara. Wilayah asal suku bangsa ini lazim disebut dengan nama Tanah Alas. Mereka memiliki bahasa sendiri yang juga bernama bahasa Alas. Kosakata bahasa ini telah dihimpun dalam sebuah kamus yang disusun oleh Osra M. Akbar et al, Kamus Alas-Indonesia Jakarta, (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1985). Kata alas dalam bahasa Alas berarti "tikar". Hal ini ada kaitannya dengan keadaan daerah itu yang membentang datar seperti "tikar" di sela-sela Bukit Barisan. Sebagian "tikar" itu terhampar di sekitar Gunung Leuser yang sekarang menjadi suaka alam. Daerah Tanah Alas dilalui banyak sungai, di antaranya Lawe Alas (Sungai Alas).

Dalam kajian tentang adat atau kebudayaan di masa lalu, nama suku bangsa dan daerah Alas ini sering kali disatukan dengan nama Gayo, sehingga keduanya seolah-olah merupakan satu suku bangsa, yaitu suku-bangsa "gayo-Alas". Dilihat dari segi budaya dan bahasa, kedua kelompok ini seharusnya dilihat sebagai dua kelompok yang berbeda. Dalam struktur pemerintahan di jaman Belanda, kedua daerah ini dijadikan satu afdeling, yakni Gajo end Alas Landen. Dalam pemerintahan Republik Indonesia, wilayah asal orang Alas dan Gayo (kecuali wilayah Gayo di Aceh Timur) tergabung menjadi satu kabupaten, Kabupaten Aceh Tengah, dengan ibu kota Takengon. Tanah Alas sendiri merupakan salah satu dari tiga kewedanaan yang ada pada waktu itu. Sejak tahun 1974 bekas Kewedanaan Tanah Alas dan Kewedanaan Gayo Lues berdiri sebagai kabupaten tersendiri dengan nama Kabupaten Aceh Tenggara, dengan ibukota Kutacane yang terletak di Tanah Alas. Sekarang Tanah Alas terbagi atas lima kecamatan yang merupakan bagian dari sembilan kecamatan di Kabupaten Aceh Tenggara. Kelima kecamatan itu adalah Kecamatan Bambel, Babussalam, Badar, Lawe Alas, dan Lawe Sigala-gala.

Satu-satunya jalur hubungan ke daerah luar dari kabupaten ini ialah ke Provinsi Sumatra Utara, yang dihubungkan dengan jalan raya. Jarak antara Kutacane dan kota Medan melalui kota seperti Berastagi berjarak lebih dari 200 km. Jalur lain dalam wilayah Kabupaten Aceh Tenggara ini adalah jalan raya sepanjang 130 km yang menghubungkan kota Kutacane dengan kota Belangkejeren. Belangkejeren adalah sebuah kota kecamatan dan sekaligus tempat kepala perwakilan kabupaten. Jalan antara Belangkejeren dengan kota Takengon di Kabupaten Aceh Tengah sudah tidak bisa dilalui kendaraan bermotor selama puluhan tahun. Daerah Alas khususnya dan Kabupaten Aceh Tenggara umumnya merupakan ujung jalan yang buntu. Orang daerah ini yang ada kepentingan ke Banda Aceh , sebagai ibukota propinsi Aceh, harus melewati Propinsi Sumatra Utara terlebih dahulu.

Daerah ini meskipun buntu masih beruntung juga di mana sementara orang, terutama para turis, tertarik datang ke sana karena adanya Taman Nasional Gunung Leuseur. Taman nasional ini menyimpan 512 jenis binatang menyusui, 313 jenis burung, 18 jenis amfibi, dan 76 jenis reptilia. Di antara jenis satwa yang amat menarik perhatian itu adalah orang-utan (Pongopygmeus). Selain itu para pencinta a! am tergiur mengarungi liku-liku Sungai (Lawe) Alas yang penuh jeram itu. Lagi pula sarana hubungan Medan Kutacane terbilang memadai (Kompas, 17-3-1990).

Orang Alas memang merupakan satu suku bangsa tersendiri , dengan corak kebudayaan dan bahasa yang berbeda dengan kebudayaan dan bahasa Gayo . Kelompok etnik Alas sebagai pendukung budaya Alas memang relatif kecil jumlahnya. Data sensus penduduk tahun 1930 menunjukkan jumlah orang Alas hanya 13 .62 1 jiwa. Jumlah ini rupanya terus berkembang , namun jumlah orang Alas pada masa-masa terakhir ini tidak lagi diketahui secara pasti, kecuali dengan perkiraan dalam persentase. Pada dekade 1970-an orang Alas di Kabupaten Aceh Tenggara diperkirakan sekitar 45% dan selebihnya orang Batak dan lain-lain (lsmani, Migrasi Orang Batak Toba ke Aceh Tenggara. Banda Aceh, PLPIIS, 1975). Jumlah penduduk Kabupaten ini pada tahun 1971 sebanyak 122.8 18 jiwa, dengan kepadatan 13 per km2, dan jumlah tahun 1980 sebesar 159.248 jiwa dengan kepadatan 17 per km2. (Yasmine Al Hadar, Migrasi Permanen Propinsi D.I Aceh. Jakarta, FEUI, 1986). Data tahun 1971 menunjukkan penduduk Tanah Alas berjumlah 88.013 jiwa, termasuk anggota masyarakat yang berasal dari suku bangsa Karo, Gayo, Batak Toba, Minangkabau, Aceh, dan lain-lain.

Pada masa lalu, Tanah Alas terbagi atas dua daerah kekuasaan yang dipimpin oleh dua orang kejerun, daerah Kejerun Batu Mbulan dan daerah Kerun Bambel. Kejerun dibantu oleh seorang wakil yang disebut Raje Mude dan empat unsur pimpinan yang disebut Raje Berempat. Setiap Raje Berempat membawahkan beberapa kampung atau desa yang disebut Kute. Kute dipimpin oleh seorang Penghulu beserta lima unsur pimpinan, yakni simetua (cerdik pandai), Imam, Katib, Bilal, dan Fakir Miskin. Imam, katib dan bilal menangani hal yang berkaitan dengan agama. Raje Mude dan Raje Berempat membantu kejerun untuk memecahkan dan memusyawarahkan masalah-masalah yang amat penting. Sistem kepemimpinan dilaksanakan dengan sistem demokrasi yang disebut sepakat-segenap.

Suatu kute biasanya didiami oleh satu atau beberapa klen, yang disebut merge. Di daerah Kejerun Batu Mbulan, misalnya, terdapat sejumlah merge dengan nama-nama seperti : Selian, Deski, Bereuh, Keling, Pelis, Bencawan, Keruas, Pase, Bangko, Cibero, Pagan, Mahe, Sekedang, Senage, Pinim, Karo, Acih, Munte, Pendeng, dan Ramen. Di lingkungan daerah Kejerun Bambel terdapat merge Sekedang Bereuh, Keling, Cibero, Bencawan, Pagan, Selian, Pase, Sepayong, Gayo, Pinim, Munte, Karo, dan Pendeng. 

Anggota satu merge merasa berasal dari satu nenek moyang yang sama. Mereka menarik garis keturunan secara patrilineal, artinya garis keturunan pihak laki-laki. Mereka juga menganut adat eksogami merge, artinya dalam mencari jodoh harus dari merge lain. Adat menetap sesudah menikah adalah virilokal, artinya sesudah menikah kedua pengantin baru menetap di sekitar pusat kediaman pihak laki-laki. Sesudah mempunyai seorang anak, biasanya keluarga muda ini pisah (Jawe) dari orang tuanya, namun tetap tinggal di lingkungan merge orang tuanya itu.

Pola tempat tinggal dalam satu kute biasanya mengelompok. Setiap kute memiliki bangunan yang disebut mersah. Kadang-kadang jumlah mersah dalam satu kute sama dengan jumlah merge yang ada. Pada masa lalu mersah itu berfungsi sebagai tempat melakukan kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi tempat menginap para anak laki-laki, para pendatang 18 (musafir), tempat beristirahat sambil mengobrol setelah bekerja seharian. Beberapa kute membangun mesjid untuk keperluan sembahyang Jumat.

Pertanian sawah merupakan mata pencaharian pokok orang Alas, terutama yang berdiam di kampung-kampung (kute). Tanah Alas yang subur itu merupakan lumbung padi di daerah Aceh. Selain itu mereka beternak kuda, kerbau, sapi dan kambing, untuk dijual dan tenaga pembantu mengolah sawah. Mereka juga berkebun karet, kopi, serta kemiri, dan mencari berbagai hasil hutan, seperti kayu, rotan, damar, dan kemenyan.

Dalam rangka kegiatan pertanian sawah pada masa lalu, mereka melakukan upacara-upacara dengan latar belakang kepercayaan tertentu agar pertanian mereka mendatangkan hasil atau terhindar dari hama. Untuk memberantas hama, mereka memanggil dukun untuk membacakan mantra dan menggunakan ramuan dedaunan serta bunga-bungaan yang dianggap mempunyai kekuatan untuk mengusir hama. Di luar kepercayaan semacam itu seluruh orang Alas adalah pemeluk agama Islam.

Dalam rentang waktu yang panjang kajian tentang masyarakat dan budaya Alas tidak banyak muncul. Namun pada masa terakhir kajian perihal masyarakat, budaya, dan lingkungan alamnya mulai muncul. H.S.Warsono meneliti tentang: Pertumbuhan Penduduk dan Masalah Pelestarian Lingkungan Hidup : Kasus Daerah Penyangga Taman Nasional Gunung Leuseur, Kecamatan Banda, Kabupaten Aceh Tenggara (Banda Aceh, LPIIS, 1982). Sebuah disertai untuk mencapai gelar Doktor tentang organisasi sosial orang Alas telah dihasilkan oleh seorang Jepang, Akifumi Iwabuchi, The Social Organization of the Alas of Northern Sumatra

 

Komentar